Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tidak hanya dikenal dengan kemegahan situs megalitikumnya, tetapi juga kekayaan budayanya yang memikat. Salah satu warisan leluhur yang hingga kini masih bersemi di hati masyarakat Lematang adalah Tari Erai-Erai. Selain keseniannya yang baik Filosofi Tari Erai Erai pun ada maknanya
Lebih dari sekadar gerak tubuh, tarian ini merupakan manifestasi kegembiraan, gotong royong, dan ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan.
Filosofi di Balik Nama: “Serumpun Serai”
Filosofi Tari Erai Erai, Nama “Erai-Erai” bukanlah sekadar sebutan tanpa makna. Diambil dari ungkapan bahasa lokal Lahat, “Serumpun Serai”, tarian ini membawa pesan filosofis yang mendalam. Layaknya tanaman serai yang tumbuh dalam satu rumpun, meski batangnya terpisah-pisah, mereka tetap bersatu dalam satu akar.
Filosofi Tari Erai Erai ini mencerminkan semangat masyarakat Lahat: seberat apa pun perbedaan atau jarak yang ada, nilai kebersamaan dan solidaritas sosial tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Jejak Sejarah: Dari Tangan Dingin Bapak Mungkim
Tari Erai-Erai memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Lahir sekitar tahun 1926 di daerah Liot, tarian ini pertama kali dicetuskan oleh seorang seniman lokal bernama Bapak Mungkim.
Pada awalnya, Erai-Erai merupakan hiburan sederhana bagi warga desa saat merayakan panen padi atau syukuran hasil kopi. Memasuki era 1950-an, tarian ini mengalami “renaissance” atau masa kejayaan dengan masuknya pengaruh instrumen musik akustik seperti biola dan akordeon, yang membuat iramanya menjadi lebih dinamis dan modern pada masanya.
Baca Juga Review Kyokko Beach
Karakteristik Gerak: Harmoni Tangan dan Kaki
Apa yang membuat Tari Erai-Erai unik? Jawabannya terletak pada kesederhanaan yang anggun. Gerakannya cenderung lembut dan mengayun, mengikuti irama musik yang tenang namun ceria.
-
Simetri Gerak: Keunikan utamanya adalah keselarasan antara tangan dan kaki. Jika kaki kanan melangkah, maka tangan kanan pun ikut bergerak. Hal ini melambangkan keseimbangan hidup.
-
Tradisi Berbalas Pantun: Penari tidak hanya bergerak, tapi juga mendendangkan pantun dalam bahasa Lahat secara bersahut-sahutan. Pantun ini bisa berisi nasihat bijak hingga sindiran halus yang mengundang tawa.
-
Interaksi Sosial: Dalam pertunjukannya, sering kali penonton diajak ikut menari. Budaya “saweran” juga menjadi bagian tak terpisahkan sebagai bentuk apresiasi penonton terhadap keahlian sang penari.
Estetika Busana dan Alunan Musik
Penampilan para penari semakin memukau dengan balutan busana tradisional khas Lematang. Mereka mengenakan Baju Kurung panjang yang dipadukan dengan Kain Tumpal Perahu, serta aksesori pelengkap seperti pending (ikat pinggang logam) dan anting-anting besar.
Dari sisi musikalitas, transisi dari alat musik tradisional (gambus dan rebana) menuju instrumen modern (biola dan akordeon) memberikan warna suara yang khas. Lagu-lagu ikonik seperti “Umak ooh Umak” menjadi nyawa yang mengatur tempo dan suasana di atas panggung.
Pengakuan Nasional sebagai Warisan Budaya
Setelah melalui perjalanan panjang sebagai identitas masyarakat Lahat, pada 31 Agustus 2023, Tari Erai-Erai resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek RI.
Penetapan ini bukan sekadar gelar, melainkan pengingat bagi generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan tarian ini agar “Serumpun Serai” tidak layu ditelan zaman.

